Pagi itu, ketika Anda bangun dari tidur, bagian punggung terasa sangat sakit. Anda tidak salah tidur, juga tidak kurang tidur. Rasa sakit di punggung tidak juga hilang bahkan setelah berhari-hari. Untuk berjaga-jaga, Anda pun menemui dokter langganan. Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh dokter Anda? Apakah memberi obat? Memberi nasehat agar lebih sering olahraga? Atau malah meminta Anda menanda tangani persetujuan untuk operasi?

 

Tentu tidak. Dokter akan melakukan diagnosa awal. Dokter akan bertanya gejala yang terjadi, bagian yang sakit, mendengarkan bunyi detak jantung melalui stetoskop dan melakukan rontgen jika diperlukan. Setelah memperoleh informasi yang cukup, barulah dokter akan memberikan saran dan hipotesisnya.

 

Hal yang sama perlu dilakukan ketika Anda memulai aktivitas, inisiatif atau kegiatan baru di organisasi. Anda perlu melihat dan melakukan diagnosa awal ke organisasi agar solusi serta aktivitas yang dilakukan dapat tepat sasaran. Begitupun dalam implementasi Knowledge Management (KM). Anda tidak bisa menyusun strategi dan solusi untuk permasalahan bisnis menggunakan KM, kecuali telah melakukan KM Assessment.

 

Kesalahan ini yang terkadang banyak dilakukan oleh praktisi maupun konsultan di bidang KM. Strategi dibuat hanya mengacu ke penyelarasan dengan strategi bisnis organisasi. Ketika organisasi sedang fokus pada Peningkatan Kompetensi, maka KM langsung diarahkan ke aspek Learning and Development. Aktivitas yang dilakukan adalah melakukan pemetaan pengetahuan penting (Knowledge Mapping) di unit bisnis serta membentuk Community of Practice sebagai media pembantu Knowledge Sharing. Hasil diskusi di Community of Practice diharapkan dapat menjadi Best Practice yang dapat diakses melalui portal Learning di organisasi.

 

Salahkah strategi tersebut? Tidak, tetapi belum lengkap.

 

Dengan langsung memulai menerapkan strategi seperti diatas, ternyata muncul masalah yang luput diidentifikasi. Belum ada kejelasan peranan (roles) penanggung jawab pengetahuan penting atau biasa disebut Knowledge Champion. Akibatnya Community of Practice sukses berjalan. Tetapi topik diskusi tidak teratur, hasil diskusi tidak ada yang melakukan validasi, dan akhirnya tidak dapat digunakan sebagai materi untuk Best Practice di Portal Learning.

 

Bayangkan berapa banyak sumberdaya, waktu dan tenaga yang hilang karena kelalaian mengidentifikasi peran Knowledge Champion. Inilah yang terjadi ketika inisiatif KM dimulai tanpa assessment. Kalaui mengambil analogi sakit pinggang dan dokter maka yang akan terjadi adalah tindakan operasi yang ditawarkan oleh dokter tanpa melakukan diagnosa dan rontgen.

 

KM Assessment: Mengidentifikasi What’s Working dan What’s Missing

Apa sebenarnya tujuan utama KM Assessment? Mudah saja. Assessment bertujuan untuk menilai kondisi organisasi pada saat ini. Caranya dengan melihat apa saja yang sudah dilakukan dan berjalan (What’s Working), apa yang belum berjalan dan butuh perbaikan (What’s Missing), dimana hambatan dan kesenjangan terjadi (gaps) serta dimana kekuatan organisasi (strength).

 

Hasil akhir assessment akan memberikan gambaran dan pemetaan bagi organisasi terkait langkah langkah implementasi atau meningkatkan inisiatif KM. Assessment juga dapat digunakan untuk berbagai tujuan, diantaranya sebagai masukan untuk strategi KM, bagian dari proses peningkatan kinerja, perbandingan dengan industri sejenis (benchmarking), mengidentifikasi elemen yang belum berjalan (knowledge bottlenecks), serta acuan dalam menyusun KM secara lengkap.

 

Pelaksanaan assessment harus dilakukan secara terstruktur, terstandardisasi, serta dengan indikator yang jelas. Tujuannya ialah agar proses identifikasi dapat dilakukan secara lengkap serta jika memungkinkan, melakukan perbandingan dengan keadaan serupa di organisasi lainnya (benchmarking).

 

Tujuan yang tidak kalah penting lainnya ialah untuk memaksimalkan inisiatif dan aktivitas sharing yang mungkin tanpa disadari sudah ada di organisasi. Saya yakin, organisasi manapun pasti sudah melakukan aktivitas sharing dalam kegiatan sehari-harinya. Hanya saja, terkadang aktivitas tersebut terpisah-pisah atau tidak dilakukan secara lengkap. Dengan KM Assessment, organisasi dapat mengidentifikasi aktivitas yang dapat digunakan atau dibantu oleh KM agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi.

 

Model dan Indikator KM Assessment

Banyak model dan indikator yang digunakan untuk melakukan assessment. Saya sendiri memilih  menggunakan 5 aspek utama yang diturunkan dari konsep aliran pengetahuan Nonaka dan Takeuchi, yaitu SECI (Socialization Externalization Combination Internalization). Sebagai tambahan, digunakan juga aspek pengendalian (Governance) yang dibutuhkan untuk memastikan KM berjalan dengan konsisten dan memberikan manfaat berkelanjutan. Untuk memperjelas, 5 aspek utama tersebut  dijabarkan menjadi 15 indikator acuan untuk menilai kondisi organisasi saat ini.

:

Komunikasi (How tacit knowledge is communicated)

  1. Peran dan Tanggung Jawab (Roles and Accountabilities) terkait knowledge sharing misalnya Champion dan Facilitator untuk Community of Practice (CoP)
  2. Proses (Process) yang digunakan untuk knowledge sharing misalnya prosedur untuk memulai CoP dan Peer Assist
  3. Teknologi (Technology) yang digunakan untuk knowledge sharing, misalnya Facebook style systems, Expert directories

 

Dokumentasi (How knowledge is captured)

  1. Peran dan Tanggung Jawab (Roles and Accountabilities) terkait proses dokumentasi pengetahuan misalnya Knowledge Owner dan Ghost Writer
  2. Proses (Process) yang digunakan untuk dokumentasi pengetahuan, misalnya After Action Review dan Retrospect untuk tiap project
  3. Teknologi (Technology) yang digunakan untuk dokumentasi pengetahuan, misalnya Wiki dan Blog

 

Strukturisasi dan Sintesis (How explicit knowledge is structured)

  1. Peran dan Tanggung Jawab (Roles and Accountabilities) terkait pengelolaan dokumen pengetahuan, misalnya peran validator untuk hasil CoP dan dokumen pengetahuan
  2. Proses (Process) yang digunakan dalam pengelolaan dokumen pengetahuan, misalnya prosedur pelaksanaan validasi dan evaluasi hasil sharing
  3. Teknologi (Technology) yang digunakan dalam pengelolaan dokumen pengetahuan, misalnya kompilasi best practice, e-library

 

Akses (How explicit knowledge is accessed and reapplied)

  1. Peran dan Tanggung Jawab (Roles and Accountabilities) terkait pengelolaan akses ke pengetahuan, misalnya KM Desk Support
  2. Proses (Process) yang digunakan dalam pengelolaan akses ke pengetahuan, misalnya Prosedur Penggunaan Dokumen Pengetahuan
  3. Teknologi (Technology) yang digunakan dalam pengelolaan akses ke pengetahuan, misalnya Integrated Portal, RSS Feed

 

Pengendalian (Governance)

  1. Harapan dan Standar pengelolaan KM (corporate expectations for KM), misalnya KM Statement, Guidelines Principles
  2. Pengawasan dan Penilaian KM (Monitoring and Measurement), misalnya Performance Management, KPI  
  3. Dukungan yang diberikan oleh organisasi (Organization’s Support) misalnya KM Training, Top Management Support

 

KM Assessment adalah aktivitas wajib yang perlu Anda lakukan sebelum memulai implementasi KM. Assessment dapat dilakukan dalam skala organisasi keseluruhan ataupun bagian yang lebih kecil lagi seperti divisi atau department. Tulisan selanjutnya akan membahas bagaimana KM Assessment dilakukan. 

 


Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah menurut Anda metode dan model KM Assessment diatas cocok bagi organisasi? Silahkan share pendapat Anda di sini

 

 

 

 

 

Empat wakil Indonesia merebut MAKE Asia 2013

Thursday, 31 October 2013 09:48

Pengumuman MAKE ASIA 2013 membawa berita menarik bagi praktisi KM Indonesia. Empat wakil Indonesia,  Pertamina, Unilever Indonesia, United Tractor, dan Toyota Astra Motor Indonesia sukses memenangkan Asia's Most Admired Knowledge Enterprises (MAKE) Award 2013. Berita lengkapnya ada di siniBerikut ringkasan press release nya:

 

Teleos Names Asia's Most Admired Knowledge Enterprises

SEOUL -- Teleos, in association with The KNOW Network, has announced the Winners of the 2013 Asian Most Admired Knowledge Enterprises (MAKE) study. The 20 Asian MAKE Winners were recognized at a special Awards Ceremony at the 14th annual World Knowledge Forum, held in Seoul. Toyota Motor Corporation was recognized as the Overall Asian MAKE Winner for the sixth time.

A panel of Asian-based Fortune 500 senior executives and internationally recognized knowledge management / intellectual capital experts selected the Winners. The panel rated organizations against the MAKE framework of eight key knowledge performance dimensions -- visible drivers of competitive advantage and intellectual capital growth

Pertamina (Indonesia)

The 2013 Asian MAKE panel has recognized Pertamina for transforming enterprise knowledge into stakeholder value. This is the first time that Pertamina has been recognized as an Asian MAKE Winner.

Toyota Astra Motor (Indonesia)

The 2013 Asian MAKE panel has recognized Toyota Astra Motor for transforming enterprise knowledge into stakeholder value. This is the third time that Toyota Astra Motor has been recognized as an Asian MAKE Winner.

Unilever Indonesia (Indonesia)

The 2013 Asian MAKE panel has recognized Unilever Indonesia for transforming enterprise knowledge into stakeholder value. Unilever Indonesia is a seven-time Asian MAKE Winner.

United Tractors (Indonesia)

The 2013 Asian MAKE panel recognized United Tractors for creating a learning organization. United Tractors is a four-time Asian MAKE Winner. 

 

Secara lengkap berikut daftar seluruh pemenang ASIA MAKE AWARD 2013:

Baoshan Iron & Steel Co., Ltd. (China)

China Merchants Securities Co., Ltd. (China)

Hong Kong and China Gas Co., Ltd. (Hong Kong SAR, China)

Hong Kong Police Force (Hong Kong SAR, China)

Infosys Limited (India)

Korea Water Resources Corporation (S. Korea)

Larsen & Toubro Hydrocarbon IC (India)

POSCO (S. Korea)

Samsung Electronics (South Korea)

Samsung SDS (South Korea)

Singapore Armed Forces (Singapore)

Tata Consultancy Services (India)

Toyota Motor Corporation (Japan)

Wipro Limited (India)

Woods Bagot (Australia) 

WorleyParsons (Australia)


Menjadi menarik karena empat peserta tersebut juga pemenang di MAKE tingkat Indonesia. Ini juga pertama kalinya, MAKE Indonesia memiliki empat pemenang karena biasanya hanya ada tiga pemenang yang menjadi wakil Indonesia di ajang MAKE Asia. 

 
Semoga ini menjadi pertanda semakin berkembangnya Knowledge Management di Indonesia. 
 
Once again, congratulations Pertamina, Unilever Indonesia, United Tractor and Toyota Astra Motor Indonesia  

White Paper

Friday, 01 November 2013 09:59

Please find our publications and white paper regarding Knowledge Management concept and implementation. Sign Up for more publications:

 

 

 

 

 

 

In need for awesomeness, request a quote or just say hello!
*Name:
*Email:
*Message:

Another Article